BUDIDAYA UNDARIA
Oleh: DR. AB Susanto MSc. (Email: aabbee@gmx.de)
Undaria dikenal secara populer sebagai WAKAME (bahasa Jepang) adalah sekelompok rumput laut penting yang dapat dimakan. Rumput laut tersebut sangat penting sekali peranannya terutama di Jepang, Cina dan Korea. Karena itu hampir sebagian besar perairannya memproduksi rumput laut ini.
Species utama dari Undaria yang dibudidayakan adalah Undaria pinnatifida, yang sangat besar permintaan pasarnya di Jepang karena secara tradisional produk asinan dibuat dari bahan dasar ini. Produksi hasil budidaya telah melampui hasil panenan dari cadangan di alam. Dua species lainnya adalah Undaria undarioides dan Undaria peterseniana. Kedua jenis tersebut akhir-akhir ini juga dibudidayakan dalam skala kecil di wilayah Jepang bagian Selatan. Undaria adalah species dari perairan dingin (baca bermusim 4) dan laut terbuka, sehingga hanya dapat tumbuh di perairan dimana temperatur pada musim dingin tetap dibawah 22°C. Temperatur optimalnya berbeda untuk setiap fase siklus hidupnya. Salinitas optimal dilaporkan pada 30-33 °/oo. Siklus hidup dari Undaria terdiri dari bentuk seksual dan aseksual. Tanaman makroskopis adalah bentuk aseksual (sporofit) yang tumbuh selama bulan-bulan musim dingin pada kisaran temperatur diantara 10° dan 15°C. Aseksual zoospora diproduksi oleh tanaman sporofit selama musim dingin tersebut dan dilepaskan ketika temperatur perairan mencapai 14°C. Planktonis Zoospora tersebut dalam waktu yang singkat menempel pada substrat dasar seperti batuan, pecahan karang, dll. Kemudian zoospora tersebut berkecambah pada temperatur diantara 15° dan 20°C untuk menghasilkan mikrokospis gametofit atau tanaman seksual. Selama musim panas tanaman tersebut berkembang dan pada akhir musim panas, sekitar bulan September, sperma dilepaskan dan membuahi sel telur di dalam oogonium yang akhirnya membentuk zygote dan dari zygote berkembang menjadi tanaman sporofit. Demikianlah siklus Undaria berlangsung di alam.
Sistem budidaya Undaria secara essensial sama dengan rumput laut lain jenis Porphyra. Sporanya dikoleksi dan dipelihara pada “tali pembibitan” (seeding twines) yang terbuat dari benang sintetis berdiameter 2-3 mm. Tali yang biasanya digunakan mempunyai panjang sekitar 100 m dan melingkari frame bujur sangkar berukuran 50 cm x 50 cm dan jarak intervelnya adalah 1 cm. Pembibitan dilakukan dalam tangki beton atau fiber dan dijaga tetap dingin. Sporofil dewasa (tanaman sporofit) sebagian dikeringkan dan kemudian ditempatkan kedalam tangki yang berisi air laut segar. Frame bertali tersebut diatur berlapis-lapis dalam tangki untuk mengkoleksi zoospora yang dilepaskan dari sporofil. Setelah dua jam kemudian di pindahkan ke tangki budidaya yang lebih besar dengan kedalaman kurang lebih 1 m, dimana frame tersebut digantung secara vertikal. Tanaman gametofit dan sporofit muda berkembang di atas tali selama musim panas. Intensitas cahaya dalam tangki budidaya diatur untuk menstimulus pertumbuhan secara cepat dan laju kematian yang rendah. Apabila kualitas air memburuk secepatnya diganti dan penambahan pupuk diperlukan bila pertumbuhan thallusnya memburuk. Dalam suatu periode pemeliharaan pembibitan yang pendek dan rendah yang dikarenakan kemungkinan pencemaran, tangki budidaya dari gametofit dapat dihindari, tetapi sebagian besar rumput laut yang didapati tumbuh dimanfaatkan untuk pemeliharaan bibit dalam tangki di ruang t ertutup.
Pertumbuhan thalli dimulai dalam musim gugur diantara bulan September dan November, dimana temperatur perairan turun dibawah 20°C dan ada sedikit karena pencemaran oleh organisme penempel (epifit). Tali-tali yang banyak ditempeli bibit diletakkan pada untaian budidaya di perairan dengan kedalaman di atas 5 m, tergant ung dari kondisi lokasinya. Untaian tali budidaya tersebut dibuat dari fiber sintetis berdiameter 10-20 mm dan tali bibit diikatkan dengan interval sekitar 15 cm. Kadang kala tali bibit dipotong menjadi potongan kecil sekitar 5-6 cm dan disisipkan kedalam untaian tali budidaya. Dalam area yang terbuka, untaian tali budidaya ditanam dengan jangkar sehingga cukup mengapung. Sistem tali yang mengapung ini dilakukan bila budidaya Undaria memungkinkan di perairan dalam (mulai kedalaman 50 m) dan terbuka bebas terkena ombak yang besar pula. Di perairan yang tertutup seperti daerah teluk, tali budidaya dapat direntangkan pada sebuah rak.
Undaria tumbuh cepat dan dapat siap dipanen setelah 3 bulan ditanam. Walaupun ombak besar menyebabkan kerusakan sistem tali terapung, namun hal itu membantu mempercepat pertumbuhan tanaman. Temperatur perairan adalah faktor utama yang berpengaruh pada pertumbuhan. Temperatur optimum adalah 15°-17°C dan dibawah 5°C pertumbuhan akan lambat. Thalli yang dipanen adalah lebih besar dari 50 cm.
Pemanenan dilakukan berdasarkan pola pertumbuhan dari thalli yang sangat tergantung pada panjang periode tumbuhnya. Ketika ada kepadatan pertumbuhan dan periode tumbuh yang panjang, thalli yang tumbuhan baik pertama kali dipanen. Langkah ini menyebabakan sisa thalli tumbuh cepat dan memungkinkan pemanenan dipercepat. Pada perairan yang miskin (buruk), thalli dipanen pertama kali dengan cara memotong bagian atas, kemudian seluruh bagian thalli dipanen pda saat ketika tanaman telah tumbuh maksimum.
Undaria dipasarkan dalam bentuk kering. Pengeringan dapat dilakukan dibawah sinar matahari atau pengering buatan. Undaria yang diasinkan digemari oleh banyak konsumer, karena rumput laut tersebut sesuai untuk digunakan. Ada juga yang dijual segar di daerah tertentu dan bila dibutuhkan dapat disimpan dalam bentuk dibekukan (didinginkan).
Catatan
Tulisan ini merupakan terjemahan bebas dari sebuah artikel pada buku ynag berjudul “Aquaculture principles and practices” karangan T.V.R. Pillay tahun 1990 yang diterbitkan the University Press, Cambridge, Great Britanian.
Bila dalam artikel ini ada kesalahan semata-mata dikarenakan kesalahan penulis dalam menterjemahkannya, oleh karena itu saran dan kritikan dari pembaca akan sangat diharapkan oleh penulis. Bila ada pertanyaan silakan hubungi penulis melalui email.


