CLONING PADA RUMPUT LAUT
Oleh: DR. AB SUSANTO, MSc (Email: aabbee@gmx.de)
Akhir-akhir ini tehnik Cloning telah dikembangkan pada berbagai aspek kehidupan dari suatu mahluk hidup, dengan tujuan untuk mendapatkan suatu keturunan baru yang mempunyai sifat genetik asli sesuai sifat induknya. Tehnik ini juga telah menyentuh di dunia rumput laut, dimana tehnik ini dipergunakan untuk mendapatkan suatu bibit yang mempunyai sifat-sifat keunggulan tersendiri, misalnya dapat menghasilkan kandungan agar-agar atau karagenan yang tinggi. Selain itu tehnik cloning ini juga dapat dimanfaatkan sebagai alternatif penyean bibit itu sendiri. Namun bagaiamanakah kelayakan dari tehnik cloning ini ditinjau secara ekonomis pada suatu usaha budidaya rumput laut, dapatlah dijelaskan dalam uraian di bawah ini.
Budidaya rumput laut penghasil karagenan Eucheuma denticulatum (Burn) Collins & Hervey dan Kappaphycus alvarezii (Doty) Doty telah dimulai di Filipina sekitar tahun 1965. Pada tahun 1990-an, jenis rumput laut ini telah dikesport mencapai 93 % dari produk rumput laut di Filipina yang setara dengan 18.386 metrik ton berat kering. kedua jenis rumput laut ini sekarang telah mensuplai lebih dari 70% kebutuhan semirefine karagenan dunia. Dari hasil penelitian yang terkini, lebih dari 10.000 keluarga memiliki dan membudidayakan secara komersial rumput laut ini di Filipina. Mereka semuanya berdiam di Filipina bagian Tengah dan Selatan dan lebih dari 170.000 penduduk Filipina bekerja pada insdustri rumput laut tersebut. Namun pada tahun 1987, produksi rumput laut di Filipina mengalami penuruanan dalam jumlah dan kualitas karagenan. hal ini merefleksikan tentang tatacara pengadaan bibit oleh para petani dan juga menandakan hilangnya cadangan di alam sebagai sumber pengadaan bibit.
Semestinya terdapat 2 hal yang penting pada suatu industri rumput laut seperti di Filipina, yaitu sistem budidaya yang dapat menghasilkan thallus dalam jumlah besar dan pengembangan pembiakan bibit yang murah. Untuk memenuhi hal ini, maka beberapa pakar dari University of South Florida Tampa, USA dan Institut Il mu kelautan, Universitas Filipina di Quezon City, pada tahun 1990-an telah melakukan penelitian tentang kemungkinan cloning rumput laut jenis Eucheuma denticulatum dan Kappaphycus alvarezii.
Adapun prosedur penelitian ynag telah mereka lakukan dalam pengambilan sampel tanaman dari Filipina, kultur cabang secara laboratoris, produksi cabang baru melalui pembiakan mikro dari thallus sebesar 0,5; pembentukan callus dan regenerasi dari cabang baru telah diuraikan Dawes dan Koch tahun 1991 untuk Eucheuma denticulatum dan Kappaphycus alvarezii. Standart media ynag digunakan dan kultur pembiakan mikro adalah air laut yang disterilkan dengan modifikasi ESS yang menggunakan 23-25
C dan 25-50 microMol photons/m2/s1 sebagai temperatur dan intensitas sinarnya selama pemeliharaan. Bentuk morfologis dan warna sampel yang telah digunakan selama penelitian tersebut, E.denticulatum adalah A(merah), D(hijau) dan K.alvarezii adalah C(hijau) dan F(merah kecoklatan). Kedua jenis rumput laut ini telah dibudidayakan sekitar 1-3 tahun.
Untuk mengurangi biaya pemakaian media, pengaruh larutan air kelapa telah diujicobakan. media air laut yang berisi rumput laut bentuk A dan C yang telah tumbuh di perkaya dengan 0,1 % air kelapa selama 24 jam perminggu tanpa atau dengan 1 mg/l indole-3-butric acid (IBA;media 2,3, tabel 1). Selanjutnya juga diujicobakan setiap minggu secara berturut-turut 0,01 % air kelapa yang memperkaya media air laut tanpa penambahan auxin (media 4,5, tabel 1). Penelitian inidilakukan di Laboratorium selama 6 minggu di Tampa dan pertumbuhan cabang dibandingkan dengan media kontrol yang menggunakan ESS diperkaya dengan IBA, cytokinin dan kinetin (masing-masing 1 mg/l, media1, tabel 1). Percobaan selanjutnya dilakukan di Filipina (Institut Ilmu kelautan/UPMSI). Percobaan tersebut menggunakan air laut steril, air laut diperkaya dengan “soil extract” dari “Erdschrieber” tanpa nitrogen atau fosfor tambahan (media 6; 0,01 % air kelapa, Algafer (0,1; 0,001 % media 3,4); media pupuk cair produksi dari algae (MCPI, Cebu City); atau media ESS (media 2, Dawes & Koch, 1991). Media biakan diganti setiap 2 minggu sekali menggunakan cara standart budidaya selama 12 minggu.
Dalam penelitian in ijuga dilakukan pengujian daya regenerasi dari callus. Sepotong thallus (0,5 cm) dari bentuk C, hasil regenerasi, di kultur dalam gelas kultur bervolume 3,0 ml dalam mikro perkecambahan dengan konsentrasi 0,1,5,10 mg/l IBA dan cytokinin (Kinetin=K).
Tabel 1. Persentase laju pertumbuhan dari cabang E.denticulatum (bentuk A) dan K.alvarezii (bentuk C) menggunakan media tumbuh yang diperkaya ESS(1); 1 mg/l indole-3-butric acid (IBA) dan kinetin (K) sebagai media kontrol (Dawes & Koch, 1991); 0,1 % air kelapa selama 24 jam perminggu (2); 0,1 % air kelapa dengan 1 mg/l IBA selama 24 jam per minggu (3); 0,01 % air kelapa sebagai media diperkaya (4); 0,01 % air kelapa alternatif perminggu (5); media 4 & 5 tanpa auksin. Semua media biakan diganti tiap minggu dan laju pertumbuhan dihitung setelah 6 minggu (N03, SD).
|
Media |
DGR Btk A |
DGR Btk C |
|
1 |
0,65 (0,05) |
0,26 (0,05) |
|
2 |
mati setelah 4 minggu |
0,33 (0,15) |
|
3 |
0,67 (0,28) |
0,34 (0,04) |
|
4 |
0,25 (0,01) |
0,24 (0,04) |
|
5 |
0,39 (0,21) |
0,30 (0,06 |
Selanjutnya dilakukan pengujian karagenan untuk mengetahui pembiayaan media untuk pemebentukan callus. Bahan media agar dan kappa karagenan telah digunakan (3 dan 6 %) yang mengandung air laut ESS di perkaya dan kombinasi auksin dan cytokinin; phenylacetic acid dan N6[-2.Isopentenyl]adenine (PAA;2iP;1mg/L) atau IBA dan K (5 mg/l). Kombinasi auxin dan cytokinin diseleksi berdasarkan efektifitasnya dalam menghasilkan callus dalam cabang yang segar.
Pengujian dilapangan dari kultur yang tumbuh di UPMSI dan cabang yang dibawa dari Laboratorium Tampa di ujicobakan di perairan Bolinao, Pangasinan, dekat Marine Station UPMSI. Kultur disimpan dalam pendingin selama 6 jam dari Quezon City. Kultur ditimbang, diikat dapa rak-rak uji di Bolinao menggunakan standart budidaya yang berlaku di UPMSI.
Adapun tujuan dari penelitian ynag dilakukan ini adalah:
Tujuan ketiga juga dapat dipenuhi dengan melakukan suatu percontohan di UPMSI di Quezon City. Ruangan yang berukuran 3,5×3,6×4 m dengan2 buah mesin pendingin sebagai alternatif penggunaan dan pemeliharaan suatu temperatur dari 22-24 0C telah digunakan dalam penelitian tersebut. Selain itu terdapat juga 2 kultur dengan 4 buah gelas kultur dimana masing-masing dilengkapi 4 sumber sinar Flourescent.
1. Dawes, C.J & E.W.Koch., 1991. Branch, micropropagule and tissue culture of the red algae E.denticulatum and K.alvarezii farmed in the Philippines. J.appl.Phycology. 3:247-257.
2. Polue-Fuller, M and A.Gibor, 1987. Calluses and callus-like growth in seaweeds: induction and culture. Hydrobiologia 151/152:131-138.
Tulisan ini tidak akan sempurna bila tidak mendapatkan kritikan dari pembaca, penulis akan berterimakasih bila mendapat kritikan akan hal tersebut. Silakan hubungi ke email di atas.



Saya interes sekali pada rumput laut. Terimakasih, artikel di atas sangat bermanfaat bagi saya. Namun kurang jelas/rinci tentang metodologinya. Apakah saya bisa mendapatkan artikel lengkapnya? bgmn caranya? brapa harus mengganti beaya? terimakasih
Terima kasih atas tulisannya.
Silahkan kunjungi web kami http://repository.unand.ac.id