Yayasan Rumput Laut Indonesia (YRLI)

Indonesian Seaweed Foundation

Yayasan Rumput Laut Indonesia (YRLI) RSS Feed
 
 
 
 

SEJARAH PEMANFAATAN RUMPUT LAUT

Istilah ‘rumput laut’ sudah lazim dikenal dalam dunia perdagangan. Istilah ini merupakan terjemahan daro kata ‘seaweed’ (bahasa Inggris). Pemberian nama terhadap alga laut bentik ini sebenarnya kurang tepat, karena bila ditinjau secara botanis, tumbuhan ini tidak tergolong rumput (graminae), tetapi lebih tepat bila kita menggunakan istilah ‘alga laut benthik’ saja.

Kajian terhadap tanaman rumput laut ini dibahas dalam disiplin ilmu yang disebut algology (algor=dingin; logos=ilmu) atau Phycology, yaitu ilmu yang mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan alga.

Rumput laut sudah lama dikenal dan dimanfaatkan oleh manusia, yaitu sejak zaman kekaisaran Shen Nung sekitar tahun 2700 sebelum Masehi. Pada masa itu masyarakat di Timur telah memnfaatkannya sebagai bahan obat-obatan (medicement) dan sebagai bahan makanan (vicktuals). Pada masa kekaisaran Romawi tahun 65 sebelum Masehi, Fucus telah dikenal sebagai bahan untuk alat-alat kecantikan. Rumput laut digunakan sebagai pupuk sejak abad ke-4 kemudian digunakan secara besar-besaran setelah abad ke-12 oleh Perancis, Irlandia, dan Skotlandia. Secara ekonomis, rumput laut baru dimanfaatkan sekitar yahun 1670 di Cina dan di Jepang. Sejak memasuki abad ke-17 beberapa Negara seperti Perancis (era Raja Louis XIV), Normandia dan Inggris telah mulai memanfaatkan panenan rumput laut terutama untuk pembuatan gelas. Kegunaan rumput laut yang beraneka macam, pada masa-masa tersebut telah menarik para ahli untuk melakukan penelitian-penelitian selanjutnya yang terus berkembang hingga sekarang.

Kini, apa yang terjadi di Negara kita, khususnya dalam kaitan dengan perkembangan pemanfaatannya? Pada tahun 1292, ketika orang-orang Eropa pertama kali melayari perairan Indonesia, mereka mencatat bahwa penduduk yang mendiami pulau-pulau di Nusantara telah mengumoulkan alga laut sejak berabad-abad lamanya untuk sayuran, namun penggunaanya masih sedikit dan biasanya hanya terbatas kepada keluarga nelayan saja. Ada sekitar 555 jenis rumput laut di Indonesia, lebih dari 21 jenis diantaranya berguna dan dimanfaatkan sebagai makanan serta memiliki nilai ekonomis sebagai komoditas perdagangan.

Rumput laut dari Indonesia telah diekspor ke Cina lebih dari satu abad yang silam. Sebelum perang dunia ke-2 rumput laut diekspor ke Cina dan Jepang rata-rata 1.000 ton/tahun. Apabila sebelum perang dunia ke-2 komoditas dari jenis Gracilaria merupakan jenis utama yang diekspor, maka akhir-akhir ini Eucheuma merupakan jenis yang paling banyak dicari, karena industry makanan, obat-obatan, dan kosmetika di dunia banyak memerlukan zat carrageenan yang terdapat di dalam Eucheuma sebagai bahan campuran (additive).

No Comments

Author

ab-susanto

DR. AB Susanto, M.Sc
Pembina YRLI
E-mail: aabbee@gmx.de

Donasi

E-buku

E-buku Identifikasi Rumput Laut

Statistik